Rabu, 03 Juli 2013

Cerpen 'Wika' #XA-13-Febriska Noor Fitriana


Wika

Oleh : Febriska Noor Fitriana


Tampak sebuah sepeda motor merah terpakir oleh seorang gadis SMA di parkiran motor belakang. Setelah melepas helm dan mencabut kunci ia menuruni motor dan berjalan menuju kelasnya sambil menenteng tasnya yang berisi buku pelajaran dan perlengkapan sekolah lainnya.
Dengan semangat yang besar yang yah sudah ada dalam bawaan kelahirannya mungkin, ia sedikit berlari-lari kecil menuju bangku temannya. Tetapi tiba-tiba.......
''Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing!'' bel tanda masuk berbunyi. Penghuni kelas termasuk gadis tadi yang sekarang membawa buku catatan tampak kebingungan. Tampak dari gerak-geriknya yang bolak-balik sedari tadi, sehingga ia tak sadar siapa yang telah datang melangkah menuju meja guru. ''Selamat pagi anak-anak'' sapa Pak Johan guru sejarah kami. Sekelas serentak menjawab kecuali Wika yang masih sibuk karena panik. Yah itu dia namanya, nama gadis yang tadi sudah diceritakan secara no-name. Tetapi lebih lengkapnya adalah Wika Sari.
''Heey kamu duduk!'' teriakan Pak Johan mengagetkan pikiran Wika yang sedang pikirannya dan pandangannya terbang dan kabur entah kemana langsung membuatnya berlari untuk duduk di bangkunya. Tak lama kemudian Pak Johan menyuruh kepada seluruh murinya untuk mengumpulkan hasil dari tugas kelompok kunjungan kami minggu lalu ke Waduk Kedung Ombo.
Wika mencari-cari laporan kelompoknya dengan menggeledah seluruh isi tasnya. Amel, Pepy, Dita dan Via melirik tajam ke arah Wika, dan sepertinya mereka mulai resah dengan nasib tugas mereka. ''Wik kamu bawa tugas kelompok kita kan ?'' tanya Pepy. ''Iya Wik, ada kan ?'' tambah Dita. Wika hanya tertunduk lesu dan menghela nafas lalu berkata ''Teman-teman maaf ya, sepertinya tugas kelompok kita tertinggal di rumahku''. Serentak teman sekelompok Wika menjadi kecewa dan akhirnya meledaklah amarah Via dan Amel ''Heh kamu itu ngga tanggung jawab banget sih sama tugas kita semua !'' bentak Amel. Lalu Via menyambung ''Terus gimana nasib kita sekarang ? Bagaimana kalau kita tidak dapat nilai lalu kita dihukum lalu..''. ''Braaaaaak!'' belum sampai selesai Via memarahi Wika tiba-tiba amarahnya disambat dahulu oleh gebrakan buka oleh Pak Johan. Beliau sangat geram dengan keributan yang diperdebatkan oleh kelompok tugas Wika, akhirnya tanpa banyak bicara Pak Johan menyuruh mereka semua pergi ke lapangan.
''Kalian ini dasar! Sudah tidak membawa hasil kerja kalian malah membuat keributan ! Sekarang kalian berdiri di lapangan belakang sekolah sampai pelajaran saya selesai!'' bentak Pak Johan. Akhirnya beberapa saat kemudian beliau meninggalkan Wika dan kelompoknya.
''Ini semua karena kamu! Kamu tidak bertanggung jawab atas tugasmu untuk membawa hasil pekerjaan kita! Sekarang kita berdiri di sini berpanas-panas ria gara-gara kamu!'' dengan kesal Amel membentak-bentak Wika. Lalu yang lainnya ikut-ikut-an memojokkan Wika dengan alasan yang dominan sama. Wika hanya tertunduk lesu dan sepertinya kata-kata maaf nya tidak akan berarti apa-apa lagi.
''Tengtengteng'' bel pergantian pelajaran pun berbunyi. Mungkin bagi mereka ini merupakan bel kebebasan hukuman juga. Semua berjalan menuju kantin dengan terburu-buru, mereka sepertinya memang berniat untuk mendiamkan dan meninggalkan Wika sendirian.
Pada saat di kantin, semua bagian dari kelompok Wika asik menikmati makan siang bersama. Hanya Wika yang tidak tampak di bangku sekitar mereka, padahal biasanya sumber keramaian saat makan adalah Wika karena ia memang suka ramai dan bercanda dengan teman-temannya ataupun petugas kantin disitu.
Terlihat Wika sedang duduk termenung sendiri di pojok sudut kelas, mukanya yang muram dan tertunduk lesu benar-benar pemandangan yang menyedihkan. Tak lama kemudian Wika bergegas berjalan menuju kantin dimana teman-temannya tadi makan. Ia langsung duduk di hadapan mereka dan masih dalam wajah tertunduk. Sambil menahan tangis akhirnya Wika berbicara 'Teman-teman sekali lagi aku benar-benar minta maaf, aku menyesal, aku tak seharusnya membuat kita semua dihukum, ini semua salahku, aku merasa sudah memasukkan hasil kerja kita, tetapi setelh aku cari di tas tadi tidak ada''. Beberapa saat kemudian teman-temannya pun mulai saling bertatapan satu sama lain. Tiba-tiba mereka memeuk Wika dan menjelaskan bahwa mereka sudah memaafkan Wika. Dan akhirnya mereka semua berbaikan dan berteman seperti semula.




Gurindam (1) #XA-13-Febriska Noor Fitriana


Gurindam
Gurindam 6
Hidup adalah anugrah terindah
Syukurilah dengan kata  Alhamdulillah

Tuhan ciptakan malaikat tanpa sayap
Didepanku , ku tatap penuh harap

Dia tertawa , malu malu melihatku
Yang sedari tadi mengigit kuku

Akhirnya dia mendekat , semakin dekat
Tak kusadari kakiku mulai menggeliat

Tapi ternyata oh ternyata
Benar benar tak ku sangka dan duga

Dia berbisik perlahan padaku
‘’kancinglah garasi celanamu’’




Sabtu, 21 Mei 2011

Cerpen Dadakan ckck


                     Terlelap
‘’Wow ada cowok keren!’’, kataku spontan di kelas pagi itu
‘’Mana Fen?’’, tanya Anita
‘’Itu tuh yang sedang berdiri di pojok kelas’’ jawabku
‘’Oooh itu namanya Aryo’’, balasnya
‘’Hmmm nama yang kereeeen seperti orangnya hehe’’, candaku
Tiba-tiba….
            ‘’Pengumuman, sehubungan dengan progam sekolah yang rutin dilakukan berkala, acara study outdoor kunjungan ke Waduk Kedung Ombo akan dilaksanakan besok pagi, surat edaran akan segera diberikan, harap para siswa datang di sekolah pukul 06.00 tepat!’’
Serentak kelas kami langsung bersorak gembira karena keesokan paginya akan diadakan study outdoor
…………..
            ‘’Moooooomy Fena pulaaang’’, teriakku. ‘’Eh Barbie Girl kesayangan Mommy udah pulang, sayang makan siang dulu yuuuk’’, ajak Mommy. Lalu kami makan siang berdua, saat itu juga aku menceritakan bahwa besok pagi akan pergi dalam acara study outdoor. Kusodorkan amplop putih berisi surat pemberitahuan untuk wali murid kepada Mommy dan sepertinya beliau mengerti dan mengijinkan. Setelah makan siang selesai aku bernjak ke kamar untuk menyiapkan berbagai keperluan yang akan aku bawa besok pagi. Rupanya waktu yang aku gunakan untuk persiapan tak terasa hingga petang, karena terlalu lelah akhirnya aku tertidur.
            ‘’Kriiiiiiiiiiing!’’, alarm weker Doraemonku berbunyi membangunkan dari mimpiku yang sedang makan malam bersama Eyang Subur beserta ke sembilan istrinya. ‘’Hoooooaaaamb’’, aku menguap dan menggeliat seperti ulat bulu. Tiba-tiba Mommy sudah ada didepanku seperti komandan perang yang sedang menggalakan terompet perang dan menyuruhku agar segera beranjak dari sarang tidurku yang nyaman. Ku jambret handuk dan baju ganti dari gantungan pakaian dan berjalan terseret-seret seperti pekerja rodi menuju kamar mandi. Air di bak menghujam badanku berasa tertusuk ribuan mata pisau, benar-benar dingin, mengapa tak seperti biasanya air di kamar mandi ku menjadi momok pagi yang seharusnya membahagiakan ini.
            Setelah selesai menjalankan syariat sebagai manusia normal yaitu siram-siram alias mandi, aku segera membalut badanku dengan baju yang sudah aku siapkan tadi. Tak terasa jam sudah hampir mendekati pukul 06.00, ku jamah almamater biruku dan tasku lalu berlari menuruni anak tangga. ‘’Aduuuh kamu mandi apa semedi sih, lama benar ! Ayo dimakan sarapannya, Mommy ngga mau kamu terlambat’’, gertak Mommy. ‘’Doooneeeeee My Lord Queeennn’’,jawabku sambil mengunyah sarapanku.
            Pak Supir yang sudah menungguku dan siap mengantarkanku dengan Lymousine Daddy segera mempersilahkan aku untuk masuk ke mobil. Aku pun segera berpamitan dengan Mommy, ku cium pipi nya dan beliau memelukku. ‘’Bye Mom, I’ll miss youuu’, pamitku. ‘’Take care darl’’, balas Mommy. Di perjalananku menuju sekolah tiba-tiba aku memikirkan seseorang, dan yah itu lagi, dan ah ya hanya bayangan yang lewat saja di fikiranku, aku sih cuek.
            Akhirnya aku sampai di sekolah, aku segera menuju bis yang telah ditentukan per-kelas masing masing. Temanku sudah menungguku di kursi agak belakang. ‘’Telat yaa, hihi pasti kesiangan, dasar cewek keboo’’,celetuk Maqis. Karena aku sedang tidak terlalu moody aku hanya tersenyum lalu meletakan tasku di atas kami yang telah disiapkan manajemen bis untuk penyimpanan tas. Dan tiba-tiba cowok itu datang melewati kursiku menuju kursi paling belakang, aku menahan nafas untuk sekian detik. Entah mengapa auranya begitu kuat menarikku. Ketika aku melihat di kursi deretan begitu ramai karena berebut makanan aku pun ikut serta. Aku asal membaur dengan mereka untuk berebut makanan tiba-tiba ‘’Ciiiiit’’ supir bis mengerem mendadak dan aku akan jaat….. ‘’Seeet’’, seseorang memegangiku sehingga aku tidak jadi terjatuh.‘’Makanya jangan kebanyakan tingkah, anteng’’, katanya sambil menarikku. ‘’Ciieeeeeeeeee’’,semua mata penumpang bis mengarah padaku. Ya Tuhan mimpi apa aku semalam, dari subur menjadi mujur eeeeh. Belum sempat aku berterimakasih dia sudah mempersilahkan aku duduk di sebelahnya, aku sih mau tapi aku ternyata terlalu jahat untuk teman sebangku ku yang sudah menjagakan kursi untuk aku, maaf  Maqis.
            Di perjalanan, aku hanya diam dan tersipu malu. Lama kelamaan terasa semakin dingin karena di atas ku persis terpasang ac yang menyala, aku lupa bahwa jas almamaterku tertinggal di bangku kursiku, aku pun memeluk tubuhku sendiri.‘’Kamu kedinginan? Ini pakek almamaterku, aku matiin ac-nya ya’’, katanya sambil memberikan jas almamaternya. ‘’Makasih Ar’’, jawabku. Tanpa aku sadari ternyata aku pun mulai tertidur di pundaknya.
            ‘’Hah aku ketiduran, eh maaf’’, kataku. ‘’Iya gapapa kok, kecapekan ya? Udah tidur lagi aja masih jauh’’ Aku pun enggan melanjutkan tidurku karena aku merasa tak enak hati dan sudah lancang tidur di pundaknya, tiba-tiba aku merasa sedikit pusing karena memang kondisi jalannya seperti medan off road. ‘’Kamu mual ? Udah tidur aja’’, tanyanya. Dalam hati aku tersanjung, begitu perhatiannya dia sampai bertanaya seperti itu. Karena aku tak kuasa untuk menjawabnya aku pun kembali terlelap.
            ‘’Sshht bangun Fen, udah sampe’’, Aryo membangunkanku. Aku pun segera bangun untuk bergegas mengambil almamaterku dan tasku kemudian turun dari bis. Ternyata kelompok ku sudah menungguku, aku pun berpisah dengan Aryo saat itu.
            Tujuan pertama kami adalah Waduk Kedung Ombo, tempatnya menurut pandanganku indah, terbentang perairan yang luas menghampar. Tapi sayangnya cuaca saat itu panas sekali, sehingga kami berjalan sambil berteduh melewati jalan yang ditumbuhi banyak pepohonan. Guru-guru menginstruksikan kepada para siswanya untuk segera mengukur pH air dalam waduk tersebut. Dengan sigap kelompok ku yang terdiri dari Vina, Wiri, Angi, dan Dinta segera terjun ke lapangan. Oke hasrat narsis ku mulai keluar, aku pun mengeluarkan kamera ku dan Angi sang juru potret mulai mendokumentasikan kegiatan kami saat pengukuran. Setelah pekerjaan selesai kami pun mulai berfoto-foto secara membabi buta, mungkin seribu foto dalam satu sesi pemotretan bisa terjadi. Karena tugas sudah selesai kami beristrahat sejenak sembari menikmati makan siang yang sudah disediakan panitia. Saat makan pandanganku tertuju pada Aryo yang sedang memotret waduk, benar benar seperti malaikat tanpa sayap. ‘’Hayooo Fena ngeliatin Aryo yaaa, haha pasti keinget pas tadi ditolongin di bis’’, kejut Wiri. ‘’Iiiiiih apaansih kamu, orang lagi liatin waduk, udah deh makan-makan’’, protesku. Dan sudah hukum alam hmm atau mungkin hukum remaja labil yang seketika serentak bercieee-cieee ria, ah sudahlah mereka tidak perlu tahu.
         ‘’Segera masuk ke bis masing-masing, kita akan segera kembali pulang’’, lewat toa Pak Joko mengumumkan. Aaaaah bahagianya pikirku, duduk bersama malaikat penjagaku. Ketika masuk ke dalam bis aku meminta maaf kepada Maqis karena pindah tempat duduk, dia pun mengerti dan akhirnya dia duduk dengan yah ehem fans-nya mungkin hihi. Segera aku duduk dan bersandar di bangkuku. ‘’Capek ya ?’’, tanya Aryo. ‘’Hmmm lumayan’’, jawabku. Kami pun sedikit berbincang-bincang mengenai penelitian selama di waduk tadi. Ternyata Aryo cowok yang humoris, pandai membuat orang tertawa. Aku pun tak bisa menyembunyikan wajah merahku yang sudah kelelahan dan ditambahi dengan gurauannya.
         Jam menunjukkan sudah pukul 18.00, benar-benar perjalanan dan penelitian yang melelahkan. Para cowok-cowok pun mulai beraksi, mereka menguasai VCD Player bis untuk menyetel lagu-lagu kesukaan mereka. Lagu-lagu metal, pop, dan rock mereka setel secara berurutan, benar-benar membuatku mual dan tidak bisa terlelap. Bangku duduk belakang sendiri yang diisi oleh 6 orang, semuanya ikut berjoged kecuali aku. Sepertinya Aryo melihatku yang kelelahan dan memutuskan tidak ikut-ikutan berbuat gaduh berjoged seperti orang kesetanan seperti lainnya. ‘’Ini minum dulu’’, Ia membukakan minuman kaleng untukku. ‘’Makasih Ar’’, balasku dengan wajah kelelahan. Sambil menghabiskan minumku aku mulai merasakan getaran getaran asmara yang sepertinya dekat sekali radarnya. Ku buang ke lantai sampah minumku dan aku mulai merasakan kantuk yang dahsyat, Aryo menyuruhku untuk tidur di pundaknya lagi, aku pun tersenyum dan dalam hati berkata ‘’Makasih malaikat penjaga perjalananku, kan ku rindukan pundakmu sampai di sekolah nanti’’, kataku. Aku pun terlelap pada jas almamater Aryo dan bersandar di pundaknya dalam perjalanan malamku menuju sekolah….