Wika
Oleh : Febriska Noor Fitriana
Tampak
sebuah sepeda motor merah terpakir oleh seorang gadis SMA di parkiran motor
belakang. Setelah melepas helm dan mencabut kunci ia menuruni motor dan
berjalan menuju kelasnya sambil menenteng tasnya yang berisi buku pelajaran dan
perlengkapan sekolah lainnya.
Dengan
semangat yang besar yang yah sudah
ada dalam bawaan kelahirannya mungkin, ia sedikit berlari-lari kecil menuju
bangku temannya. Tetapi tiba-tiba.......
''Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing!''
bel tanda masuk berbunyi. Penghuni kelas termasuk gadis tadi yang sekarang
membawa buku catatan tampak kebingungan. Tampak dari gerak-geriknya yang
bolak-balik sedari tadi, sehingga ia tak sadar siapa yang telah datang
melangkah menuju meja guru. ''Selamat pagi anak-anak'' sapa Pak Johan guru
sejarah kami. Sekelas serentak menjawab kecuali Wika yang masih sibuk karena
panik. Yah itu dia namanya, nama gadis yang tadi sudah
diceritakan secara no-name. Tetapi lebih lengkapnya adalah Wika Sari.
''Heey
kamu duduk!'' teriakan Pak Johan mengagetkan pikiran Wika yang sedang pikirannya dan
pandangannya terbang dan kabur entah kemana langsung
membuatnya berlari untuk duduk di bangkunya. Tak lama kemudian Pak Johan
menyuruh kepada seluruh murinya untuk mengumpulkan hasil dari tugas kelompok
kunjungan kami minggu lalu ke Waduk Kedung Ombo.
Wika
mencari-cari laporan kelompoknya dengan menggeledah seluruh isi tasnya. Amel,
Pepy, Dita dan Via melirik tajam ke arah Wika, dan sepertinya mereka mulai
resah dengan nasib tugas mereka. ''Wik kamu bawa tugas kelompok kita kan ?''
tanya Pepy. ''Iya Wik, ada kan ?'' tambah Dita. Wika hanya tertunduk lesu dan
menghela nafas lalu berkata ''Teman-teman maaf ya, sepertinya tugas kelompok
kita tertinggal di rumahku''. Serentak teman sekelompok Wika menjadi kecewa dan
akhirnya meledaklah amarah Via dan Amel ''Heh kamu itu ngga tanggung jawab
banget sih sama tugas kita semua !'' bentak Amel. Lalu Via menyambung ''Terus
gimana nasib kita sekarang ? Bagaimana kalau kita tidak dapat nilai lalu kita
dihukum lalu..''. ''Braaaaaak!'' belum sampai selesai Via memarahi Wika
tiba-tiba amarahnya disambat dahulu oleh gebrakan buka oleh Pak Johan. Beliau
sangat geram dengan keributan yang diperdebatkan oleh kelompok tugas Wika,
akhirnya tanpa banyak bicara Pak Johan menyuruh mereka semua pergi ke lapangan.
''Kalian ini dasar! Sudah
tidak membawa hasil kerja kalian malah membuat keributan ! Sekarang kalian berdiri di lapangan belakang sekolah sampai
pelajaran saya selesai!'' bentak Pak Johan. Akhirnya beberapa saat kemudian
beliau meninggalkan Wika dan kelompoknya.
''Ini
semua karena kamu! Kamu tidak bertanggung jawab atas tugasmu untuk membawa
hasil pekerjaan kita! Sekarang kita berdiri di sini berpanas-panas ria
gara-gara kamu!'' dengan kesal Amel membentak-bentak Wika. Lalu yang lainnya
ikut-ikut-an memojokkan Wika dengan alasan yang dominan sama. Wika hanya
tertunduk lesu dan sepertinya kata-kata maaf nya tidak akan berarti apa-apa
lagi.
''Tengtengteng''
bel pergantian pelajaran pun berbunyi. Mungkin bagi mereka ini merupakan bel
kebebasan hukuman juga. Semua berjalan menuju kantin dengan terburu-buru,
mereka sepertinya memang berniat untuk mendiamkan dan meninggalkan Wika
sendirian.
Pada
saat di kantin, semua bagian dari kelompok Wika asik menikmati makan siang
bersama. Hanya Wika yang tidak tampak di bangku sekitar mereka, padahal
biasanya sumber keramaian saat makan adalah Wika karena ia memang suka ramai
dan bercanda dengan teman-temannya ataupun petugas kantin disitu.
Terlihat
Wika sedang duduk termenung sendiri di pojok sudut kelas, mukanya yang muram
dan tertunduk lesu benar-benar pemandangan yang menyedihkan. Tak lama kemudian
Wika bergegas berjalan menuju kantin dimana teman-temannya tadi makan. Ia
langsung duduk di hadapan mereka dan masih dalam wajah tertunduk. Sambil
menahan tangis akhirnya Wika berbicara 'Teman-teman sekali lagi aku benar-benar
minta maaf, aku menyesal, aku tak seharusnya membuat kita semua dihukum, ini
semua salahku, aku merasa sudah memasukkan hasil kerja kita, tetapi setelh aku
cari di tas tadi tidak ada''. Beberapa saat kemudian teman-temannya pun mulai
saling bertatapan satu sama lain. Tiba-tiba mereka memeuk Wika dan menjelaskan
bahwa mereka sudah memaafkan Wika. Dan akhirnya mereka semua berbaikan dan
berteman seperti semula.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar