Sabtu, 21 Mei 2011

Cerpen Dadakan ckck


                     Terlelap
‘’Wow ada cowok keren!’’, kataku spontan di kelas pagi itu
‘’Mana Fen?’’, tanya Anita
‘’Itu tuh yang sedang berdiri di pojok kelas’’ jawabku
‘’Oooh itu namanya Aryo’’, balasnya
‘’Hmmm nama yang kereeeen seperti orangnya hehe’’, candaku
Tiba-tiba….
            ‘’Pengumuman, sehubungan dengan progam sekolah yang rutin dilakukan berkala, acara study outdoor kunjungan ke Waduk Kedung Ombo akan dilaksanakan besok pagi, surat edaran akan segera diberikan, harap para siswa datang di sekolah pukul 06.00 tepat!’’
Serentak kelas kami langsung bersorak gembira karena keesokan paginya akan diadakan study outdoor
…………..
            ‘’Moooooomy Fena pulaaang’’, teriakku. ‘’Eh Barbie Girl kesayangan Mommy udah pulang, sayang makan siang dulu yuuuk’’, ajak Mommy. Lalu kami makan siang berdua, saat itu juga aku menceritakan bahwa besok pagi akan pergi dalam acara study outdoor. Kusodorkan amplop putih berisi surat pemberitahuan untuk wali murid kepada Mommy dan sepertinya beliau mengerti dan mengijinkan. Setelah makan siang selesai aku bernjak ke kamar untuk menyiapkan berbagai keperluan yang akan aku bawa besok pagi. Rupanya waktu yang aku gunakan untuk persiapan tak terasa hingga petang, karena terlalu lelah akhirnya aku tertidur.
            ‘’Kriiiiiiiiiiing!’’, alarm weker Doraemonku berbunyi membangunkan dari mimpiku yang sedang makan malam bersama Eyang Subur beserta ke sembilan istrinya. ‘’Hoooooaaaamb’’, aku menguap dan menggeliat seperti ulat bulu. Tiba-tiba Mommy sudah ada didepanku seperti komandan perang yang sedang menggalakan terompet perang dan menyuruhku agar segera beranjak dari sarang tidurku yang nyaman. Ku jambret handuk dan baju ganti dari gantungan pakaian dan berjalan terseret-seret seperti pekerja rodi menuju kamar mandi. Air di bak menghujam badanku berasa tertusuk ribuan mata pisau, benar-benar dingin, mengapa tak seperti biasanya air di kamar mandi ku menjadi momok pagi yang seharusnya membahagiakan ini.
            Setelah selesai menjalankan syariat sebagai manusia normal yaitu siram-siram alias mandi, aku segera membalut badanku dengan baju yang sudah aku siapkan tadi. Tak terasa jam sudah hampir mendekati pukul 06.00, ku jamah almamater biruku dan tasku lalu berlari menuruni anak tangga. ‘’Aduuuh kamu mandi apa semedi sih, lama benar ! Ayo dimakan sarapannya, Mommy ngga mau kamu terlambat’’, gertak Mommy. ‘’Doooneeeeee My Lord Queeennn’’,jawabku sambil mengunyah sarapanku.
            Pak Supir yang sudah menungguku dan siap mengantarkanku dengan Lymousine Daddy segera mempersilahkan aku untuk masuk ke mobil. Aku pun segera berpamitan dengan Mommy, ku cium pipi nya dan beliau memelukku. ‘’Bye Mom, I’ll miss youuu’, pamitku. ‘’Take care darl’’, balas Mommy. Di perjalananku menuju sekolah tiba-tiba aku memikirkan seseorang, dan yah itu lagi, dan ah ya hanya bayangan yang lewat saja di fikiranku, aku sih cuek.
            Akhirnya aku sampai di sekolah, aku segera menuju bis yang telah ditentukan per-kelas masing masing. Temanku sudah menungguku di kursi agak belakang. ‘’Telat yaa, hihi pasti kesiangan, dasar cewek keboo’’,celetuk Maqis. Karena aku sedang tidak terlalu moody aku hanya tersenyum lalu meletakan tasku di atas kami yang telah disiapkan manajemen bis untuk penyimpanan tas. Dan tiba-tiba cowok itu datang melewati kursiku menuju kursi paling belakang, aku menahan nafas untuk sekian detik. Entah mengapa auranya begitu kuat menarikku. Ketika aku melihat di kursi deretan begitu ramai karena berebut makanan aku pun ikut serta. Aku asal membaur dengan mereka untuk berebut makanan tiba-tiba ‘’Ciiiiit’’ supir bis mengerem mendadak dan aku akan jaat….. ‘’Seeet’’, seseorang memegangiku sehingga aku tidak jadi terjatuh.‘’Makanya jangan kebanyakan tingkah, anteng’’, katanya sambil menarikku. ‘’Ciieeeeeeeeee’’,semua mata penumpang bis mengarah padaku. Ya Tuhan mimpi apa aku semalam, dari subur menjadi mujur eeeeh. Belum sempat aku berterimakasih dia sudah mempersilahkan aku duduk di sebelahnya, aku sih mau tapi aku ternyata terlalu jahat untuk teman sebangku ku yang sudah menjagakan kursi untuk aku, maaf  Maqis.
            Di perjalanan, aku hanya diam dan tersipu malu. Lama kelamaan terasa semakin dingin karena di atas ku persis terpasang ac yang menyala, aku lupa bahwa jas almamaterku tertinggal di bangku kursiku, aku pun memeluk tubuhku sendiri.‘’Kamu kedinginan? Ini pakek almamaterku, aku matiin ac-nya ya’’, katanya sambil memberikan jas almamaternya. ‘’Makasih Ar’’, jawabku. Tanpa aku sadari ternyata aku pun mulai tertidur di pundaknya.
            ‘’Hah aku ketiduran, eh maaf’’, kataku. ‘’Iya gapapa kok, kecapekan ya? Udah tidur lagi aja masih jauh’’ Aku pun enggan melanjutkan tidurku karena aku merasa tak enak hati dan sudah lancang tidur di pundaknya, tiba-tiba aku merasa sedikit pusing karena memang kondisi jalannya seperti medan off road. ‘’Kamu mual ? Udah tidur aja’’, tanyanya. Dalam hati aku tersanjung, begitu perhatiannya dia sampai bertanaya seperti itu. Karena aku tak kuasa untuk menjawabnya aku pun kembali terlelap.
            ‘’Sshht bangun Fen, udah sampe’’, Aryo membangunkanku. Aku pun segera bangun untuk bergegas mengambil almamaterku dan tasku kemudian turun dari bis. Ternyata kelompok ku sudah menungguku, aku pun berpisah dengan Aryo saat itu.
            Tujuan pertama kami adalah Waduk Kedung Ombo, tempatnya menurut pandanganku indah, terbentang perairan yang luas menghampar. Tapi sayangnya cuaca saat itu panas sekali, sehingga kami berjalan sambil berteduh melewati jalan yang ditumbuhi banyak pepohonan. Guru-guru menginstruksikan kepada para siswanya untuk segera mengukur pH air dalam waduk tersebut. Dengan sigap kelompok ku yang terdiri dari Vina, Wiri, Angi, dan Dinta segera terjun ke lapangan. Oke hasrat narsis ku mulai keluar, aku pun mengeluarkan kamera ku dan Angi sang juru potret mulai mendokumentasikan kegiatan kami saat pengukuran. Setelah pekerjaan selesai kami pun mulai berfoto-foto secara membabi buta, mungkin seribu foto dalam satu sesi pemotretan bisa terjadi. Karena tugas sudah selesai kami beristrahat sejenak sembari menikmati makan siang yang sudah disediakan panitia. Saat makan pandanganku tertuju pada Aryo yang sedang memotret waduk, benar benar seperti malaikat tanpa sayap. ‘’Hayooo Fena ngeliatin Aryo yaaa, haha pasti keinget pas tadi ditolongin di bis’’, kejut Wiri. ‘’Iiiiiih apaansih kamu, orang lagi liatin waduk, udah deh makan-makan’’, protesku. Dan sudah hukum alam hmm atau mungkin hukum remaja labil yang seketika serentak bercieee-cieee ria, ah sudahlah mereka tidak perlu tahu.
         ‘’Segera masuk ke bis masing-masing, kita akan segera kembali pulang’’, lewat toa Pak Joko mengumumkan. Aaaaah bahagianya pikirku, duduk bersama malaikat penjagaku. Ketika masuk ke dalam bis aku meminta maaf kepada Maqis karena pindah tempat duduk, dia pun mengerti dan akhirnya dia duduk dengan yah ehem fans-nya mungkin hihi. Segera aku duduk dan bersandar di bangkuku. ‘’Capek ya ?’’, tanya Aryo. ‘’Hmmm lumayan’’, jawabku. Kami pun sedikit berbincang-bincang mengenai penelitian selama di waduk tadi. Ternyata Aryo cowok yang humoris, pandai membuat orang tertawa. Aku pun tak bisa menyembunyikan wajah merahku yang sudah kelelahan dan ditambahi dengan gurauannya.
         Jam menunjukkan sudah pukul 18.00, benar-benar perjalanan dan penelitian yang melelahkan. Para cowok-cowok pun mulai beraksi, mereka menguasai VCD Player bis untuk menyetel lagu-lagu kesukaan mereka. Lagu-lagu metal, pop, dan rock mereka setel secara berurutan, benar-benar membuatku mual dan tidak bisa terlelap. Bangku duduk belakang sendiri yang diisi oleh 6 orang, semuanya ikut berjoged kecuali aku. Sepertinya Aryo melihatku yang kelelahan dan memutuskan tidak ikut-ikutan berbuat gaduh berjoged seperti orang kesetanan seperti lainnya. ‘’Ini minum dulu’’, Ia membukakan minuman kaleng untukku. ‘’Makasih Ar’’, balasku dengan wajah kelelahan. Sambil menghabiskan minumku aku mulai merasakan getaran getaran asmara yang sepertinya dekat sekali radarnya. Ku buang ke lantai sampah minumku dan aku mulai merasakan kantuk yang dahsyat, Aryo menyuruhku untuk tidur di pundaknya lagi, aku pun tersenyum dan dalam hati berkata ‘’Makasih malaikat penjaga perjalananku, kan ku rindukan pundakmu sampai di sekolah nanti’’, kataku. Aku pun terlelap pada jas almamater Aryo dan bersandar di pundaknya dalam perjalanan malamku menuju sekolah….


Tidak ada komentar:

Posting Komentar