Terlelap
‘’Wow ada cowok
keren!’’, kataku spontan di kelas pagi itu
‘’Mana Fen?’’, tanya
Anita
‘’Itu tuh yang sedang
berdiri di pojok kelas’’ jawabku
‘’Oooh itu namanya
Aryo’’, balasnya
‘’Hmmm nama yang
kereeeen seperti orangnya hehe’’, candaku
Tiba-tiba….
‘’Pengumuman,
sehubungan dengan progam sekolah yang rutin dilakukan berkala, acara study outdoor kunjungan ke Waduk Kedung
Ombo akan dilaksanakan besok pagi, surat edaran akan segera diberikan, harap
para siswa datang di sekolah pukul 06.00 tepat!’’
Serentak kelas kami
langsung bersorak gembira karena keesokan paginya akan diadakan study outdoor
…………..
‘’Moooooomy
Fena pulaaang’’, teriakku. ‘’Eh Barbie
Girl kesayangan Mommy udah
pulang, sayang makan siang dulu yuuuk’’, ajak Mommy. Lalu kami makan siang
berdua, saat itu juga aku menceritakan bahwa besok pagi akan pergi dalam acara study outdoor. Kusodorkan amplop putih
berisi surat pemberitahuan untuk wali murid kepada Mommy dan sepertinya beliau
mengerti dan mengijinkan. Setelah makan siang selesai aku bernjak ke kamar
untuk menyiapkan berbagai keperluan yang akan aku bawa besok pagi. Rupanya
waktu yang aku gunakan untuk persiapan tak terasa hingga petang, karena terlalu
lelah akhirnya aku tertidur.
‘’Kriiiiiiiiiiing!’’, alarm weker Doraemonku berbunyi
membangunkan dari mimpiku yang sedang makan malam bersama Eyang Subur beserta
ke sembilan istrinya. ‘’Hoooooaaaamb’’, aku menguap dan menggeliat seperti ulat
bulu. Tiba-tiba Mommy sudah ada
didepanku seperti komandan perang yang sedang menggalakan terompet perang dan
menyuruhku agar segera beranjak dari sarang tidurku yang nyaman. Ku jambret
handuk dan baju ganti dari gantungan pakaian dan berjalan terseret-seret
seperti pekerja rodi menuju kamar mandi. Air di bak menghujam badanku berasa tertusuk
ribuan mata pisau, benar-benar dingin, mengapa tak seperti biasanya air di
kamar mandi ku menjadi momok pagi yang seharusnya membahagiakan ini.
Setelah selesai menjalankan syariat
sebagai manusia normal yaitu siram-siram
alias mandi, aku segera membalut badanku dengan baju yang sudah aku siapkan
tadi. Tak terasa jam sudah hampir mendekati pukul 06.00, ku jamah almamater
biruku dan tasku lalu berlari menuruni anak tangga. ‘’Aduuuh kamu mandi apa
semedi sih, lama benar ! Ayo dimakan sarapannya, Mommy ngga mau kamu
terlambat’’, gertak Mommy. ‘’Doooneeeeee
My Lord Queeennn’’,jawabku sambil mengunyah sarapanku.
Pak Supir yang sudah menungguku dan siap mengantarkanku
dengan Lymousine Daddy segera
mempersilahkan aku untuk masuk ke mobil. Aku pun segera berpamitan dengan
Mommy, ku cium pipi nya dan beliau memelukku. ‘’Bye Mom, I’ll miss youuu’, pamitku. ‘’Take care darl’’, balas Mommy.
Di perjalananku menuju sekolah tiba-tiba aku memikirkan seseorang, dan yah itu
lagi, dan ah ya hanya bayangan yang lewat saja di fikiranku, aku sih cuek.
Akhirnya aku sampai di sekolah, aku segera menuju bis
yang telah ditentukan per-kelas masing masing. Temanku sudah menungguku di
kursi agak belakang. ‘’Telat yaa, hihi pasti kesiangan, dasar cewek
keboo’’,celetuk Maqis. Karena aku sedang tidak terlalu moody aku hanya tersenyum lalu meletakan tasku di atas kami yang
telah disiapkan manajemen bis untuk penyimpanan tas. Dan tiba-tiba cowok itu
datang melewati kursiku menuju kursi paling belakang, aku menahan nafas untuk
sekian detik. Entah mengapa auranya begitu kuat menarikku. Ketika aku melihat
di kursi deretan begitu ramai karena berebut makanan aku pun ikut serta. Aku asal
membaur dengan mereka untuk berebut makanan tiba-tiba ‘’Ciiiiit’’ supir bis mengerem
mendadak dan aku akan jaat….. ‘’Seeet’’, seseorang memegangiku sehingga aku
tidak jadi terjatuh.‘’Makanya jangan kebanyakan tingkah, anteng’’, katanya
sambil menarikku. ‘’Ciieeeeeeeeee’’,semua mata penumpang bis mengarah padaku.
Ya Tuhan mimpi apa aku semalam, dari subur menjadi mujur eeeeh. Belum sempat
aku berterimakasih dia sudah mempersilahkan aku duduk di sebelahnya, aku sih mau tapi aku ternyata terlalu jahat
untuk teman sebangku ku yang sudah menjagakan kursi untuk aku, maaf Maqis.
Di perjalanan, aku hanya diam dan
tersipu malu. Lama kelamaan terasa semakin dingin karena di atas ku persis
terpasang ac yang menyala, aku lupa
bahwa jas almamaterku tertinggal di bangku kursiku, aku pun memeluk tubuhku
sendiri.‘’Kamu kedinginan? Ini pakek
almamaterku, aku matiin ac-nya ya’’, katanya sambil memberikan
jas almamaternya. ‘’Makasih Ar’’, jawabku. Tanpa aku sadari ternyata aku pun
mulai tertidur di pundaknya.
‘’Hah aku ketiduran, eh maaf’’, kataku. ‘’Iya gapapa kok, kecapekan ya? Udah tidur
lagi aja masih jauh’’ Aku pun enggan melanjutkan tidurku karena aku merasa tak
enak hati dan sudah lancang tidur di pundaknya, tiba-tiba aku merasa sedikit
pusing karena memang kondisi jalannya seperti medan off road. ‘’Kamu mual ? Udah tidur aja’’, tanyanya. Dalam hati aku
tersanjung, begitu perhatiannya dia sampai bertanaya seperti itu. Karena aku
tak kuasa untuk menjawabnya aku pun kembali terlelap.
‘’Sshht bangun Fen, udah sampe’’,
Aryo membangunkanku. Aku pun segera bangun untuk bergegas mengambil almamaterku
dan tasku kemudian turun dari bis. Ternyata kelompok ku sudah menungguku, aku
pun berpisah dengan Aryo saat itu.
Tujuan pertama kami adalah Waduk
Kedung Ombo, tempatnya menurut pandanganku indah, terbentang perairan yang luas
menghampar. Tapi sayangnya cuaca saat itu panas sekali, sehingga kami berjalan
sambil berteduh melewati jalan yang ditumbuhi banyak pepohonan. Guru-guru
menginstruksikan kepada para siswanya untuk segera mengukur pH air dalam waduk
tersebut. Dengan sigap kelompok ku yang terdiri dari Vina, Wiri, Angi, dan
Dinta segera terjun ke lapangan. Oke hasrat narsis
ku mulai keluar, aku pun mengeluarkan kamera ku dan Angi sang juru potret mulai
mendokumentasikan kegiatan kami saat pengukuran. Setelah pekerjaan selesai kami
pun mulai berfoto-foto secara membabi buta, mungkin seribu foto dalam satu sesi
pemotretan bisa terjadi. Karena tugas sudah selesai kami beristrahat sejenak
sembari menikmati makan siang yang sudah disediakan panitia. Saat makan
pandanganku tertuju pada Aryo yang sedang memotret waduk, benar benar seperti
malaikat tanpa sayap. ‘’Hayooo Fena ngeliatin Aryo yaaa, haha pasti keinget pas
tadi ditolongin di bis’’, kejut Wiri. ‘’Iiiiiih apaansih kamu, orang lagi liatin waduk, udah deh makan-makan’’, protesku.
Dan sudah hukum alam hmm atau mungkin hukum remaja labil yang seketika serentak
bercieee-cieee ria, ah sudahlah mereka tidak perlu tahu.
‘’Segera masuk ke bis masing-masing, kita akan segera
kembali pulang’’, lewat toa Pak Joko mengumumkan. Aaaaah bahagianya pikirku,
duduk bersama malaikat penjagaku. Ketika masuk ke dalam bis aku meminta maaf
kepada Maqis karena pindah tempat duduk, dia pun mengerti dan akhirnya dia
duduk dengan yah ehem fans-nya
mungkin hihi. Segera aku duduk dan bersandar di bangkuku. ‘’Capek ya ?’’, tanya
Aryo. ‘’Hmmm lumayan’’, jawabku. Kami pun sedikit berbincang-bincang mengenai
penelitian selama di waduk tadi. Ternyata Aryo cowok yang humoris, pandai
membuat orang tertawa. Aku pun tak bisa menyembunyikan wajah merahku yang sudah
kelelahan dan ditambahi dengan gurauannya.
Jam menunjukkan sudah pukul 18.00,
benar-benar perjalanan dan penelitian yang melelahkan. Para cowok-cowok pun
mulai beraksi, mereka menguasai VCD Player bis untuk menyetel lagu-lagu kesukaan
mereka. Lagu-lagu metal, pop, dan rock mereka setel secara berurutan, benar-benar
membuatku mual dan tidak bisa terlelap. Bangku duduk belakang sendiri yang
diisi oleh 6 orang, semuanya ikut berjoged kecuali aku. Sepertinya Aryo
melihatku yang kelelahan dan memutuskan tidak ikut-ikutan berbuat gaduh berjoged
seperti orang kesetanan seperti lainnya. ‘’Ini minum dulu’’, Ia membukakan
minuman kaleng untukku. ‘’Makasih Ar’’, balasku dengan wajah kelelahan. Sambil
menghabiskan minumku aku mulai merasakan getaran getaran asmara yang sepertinya
dekat sekali radarnya. Ku buang ke lantai sampah minumku
dan aku mulai merasakan kantuk yang dahsyat, Aryo menyuruhku untuk tidur di
pundaknya lagi, aku pun tersenyum dan dalam hati berkata ‘’Makasih malaikat
penjaga perjalananku, kan ku rindukan pundakmu sampai di sekolah nanti’’,
kataku. Aku pun terlelap pada jas almamater Aryo dan bersandar di pundaknya
dalam perjalanan malamku menuju sekolah….